Berikut ini adalah liputan media mengenai pemecahan rekor dunia yang dilakukan oleh Freedom Faithnet Global (FFG) di pantai Carnival Ancol, Jakarta, Indonesia. Di Bawah ini adalah liputan dari media Jawa Pos.
Bagi yang berkeinginan ikut gabung dalam komunitas FFG, silahkan kontak saya di 0816 1137571 untuk informasi lebih lanjut.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Beri Semangat agar Indonesia Berani Bermimpi
Rekor dunia menyalakan dan menerbangkan lampion terpecahkan tadi malam di Pantai Karnaval, Ancol. Freedom Faithnet Global (FFG), komunitas pengembangan kualitas manusia yang punya acara, malam itu menyalakan 10 ribu lampion bersama 7.000 anggotanya.
"Rekor dunia sudah pecah," kata Lucia Sinigagliesi, adjudications manager (manajer penjurian) dari Guinness World Records yang tadi malam menyaksikan langsung pemecahan rekor tersebut. Sinigagliesi datang langsung dari kantor pusat Guinness World Records di London. Sertifikat pemecahan rekor itu pun langsung diserahkan Sinigagliesi kepada Co-Founder FFG Onggy Hianata.
Kata Sinigagliesi, rekor menyalakan lampion sebelumnya dipegang Kolombia dengan 3.682 lampion. Negara Amerika Latin itu memecahkan rekor pada 10 Januari lalu yang sebelumnya dipegang Tiongkok dengan 1.800 lampion.
Sekitar pukul 22.00 tadi malam, para anggota FFG mulai membanjiri lapangan depan dome Pantai Karnaval. Mereka berasal dari semua kalangan usia, kelas ekonomi, suku, bahkan negara. Acara yang diberi judul Annual Freedom Celebration itu bertema Green Attitude. Humas acara Yamal Hasmanan mengatakan, beberapa peserta bahkan datang dari 30 negara.
Lampion mulai dinyalakan pukul 22.30. Untuk menyalakannya, lampion yang khusus didatangkan dari Tiongkok itu harus diisi udara dulu. Setelah sarat udara, bentuk lampion akan seperti tabung. Kemudian, lilin yang berada di tengah kawat melingkar dinyalakan. Namun, lampion tak lantas dilepas. Harus ditunggu tiga sampai lima menit sehingga udara dalam lampion panas sekitar. Setelah udara panas, lampion baru dilepas.
Lampion itu terlihat seperti kerlip-kerlip lampu yang berjalan perlahan ke awan. Jumlahnya yang ribuan membuat langit Ancol menjadi terang dengan kerlip lampu-lampu kuning. Para anggota FFG bersorak gembira tiap kali lampion berhasil mengangkasa membawa doa mereka.
Onggy Hianata mengatakan, lampion adalah simbol harapan dan doa. Di negara asal budaya lampion, Tiongkok, orang menyalakannya dengan menuliskan harapan dan doanya. Karena itu, para peserta menulis keinginannya. Ada yang ingin kaya, keluarga sehat, dan mendoakan agar bangsa Indonesia makmur. "Ini lampion untuk kesejahteraan keluarga dan bangsa," kata Onggy .
Sumber : Jawa Pos 7 Desember 2009
Bagi yang berkeinginan ikut gabung dalam komunitas FFG, silahkan kontak saya di 0816 1137571 untuk informasi lebih lanjut.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Beri Semangat agar Indonesia Berani Bermimpi
Rekor dunia menyalakan dan menerbangkan lampion terpecahkan tadi malam di Pantai Karnaval, Ancol. Freedom Faithnet Global (FFG), komunitas pengembangan kualitas manusia yang punya acara, malam itu menyalakan 10 ribu lampion bersama 7.000 anggotanya.
"Rekor dunia sudah pecah," kata Lucia Sinigagliesi, adjudications manager (manajer penjurian) dari Guinness World Records yang tadi malam menyaksikan langsung pemecahan rekor tersebut. Sinigagliesi datang langsung dari kantor pusat Guinness World Records di London. Sertifikat pemecahan rekor itu pun langsung diserahkan Sinigagliesi kepada Co-Founder FFG Onggy Hianata.
Kata Sinigagliesi, rekor menyalakan lampion sebelumnya dipegang Kolombia dengan 3.682 lampion. Negara Amerika Latin itu memecahkan rekor pada 10 Januari lalu yang sebelumnya dipegang Tiongkok dengan 1.800 lampion.
Sekitar pukul 22.00 tadi malam, para anggota FFG mulai membanjiri lapangan depan dome Pantai Karnaval. Mereka berasal dari semua kalangan usia, kelas ekonomi, suku, bahkan negara. Acara yang diberi judul Annual Freedom Celebration itu bertema Green Attitude. Humas acara Yamal Hasmanan mengatakan, beberapa peserta bahkan datang dari 30 negara.
Lampion mulai dinyalakan pukul 22.30. Untuk menyalakannya, lampion yang khusus didatangkan dari Tiongkok itu harus diisi udara dulu. Setelah sarat udara, bentuk lampion akan seperti tabung. Kemudian, lilin yang berada di tengah kawat melingkar dinyalakan. Namun, lampion tak lantas dilepas. Harus ditunggu tiga sampai lima menit sehingga udara dalam lampion panas sekitar. Setelah udara panas, lampion baru dilepas.
Lampion itu terlihat seperti kerlip-kerlip lampu yang berjalan perlahan ke awan. Jumlahnya yang ribuan membuat langit Ancol menjadi terang dengan kerlip lampu-lampu kuning. Para anggota FFG bersorak gembira tiap kali lampion berhasil mengangkasa membawa doa mereka.
Onggy Hianata mengatakan, lampion adalah simbol harapan dan doa. Di negara asal budaya lampion, Tiongkok, orang menyalakannya dengan menuliskan harapan dan doanya. Karena itu, para peserta menulis keinginannya. Ada yang ingin kaya, keluarga sehat, dan mendoakan agar bangsa Indonesia makmur. "Ini lampion untuk kesejahteraan keluarga dan bangsa," kata Onggy .
Sumber : Jawa Pos 7 Desember 2009
Comments
Post a Comment